Sidang Promosi Doktor Dr. Dra. Mita Widyastuti, M.Si.

Bandung- Jumat, 31 Januari 2020 (14.00), Bertempat di Gedung A Lt.2 Program Pascasarjana FISIP Unpad, Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Mita Widyastuti yang merupakan mahasiswa Doktor Program Studi Ilmu Administrasi Publik dan sebagai Dosen Tetap di Universitas Islam “45” Bekasi, resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan ujian terbuka.

Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Ida Widianingsih, S.IP., M.A., Ph.D., Ketua Tim Promotor Dr. Drs. H. Herijanto Bekti, M.Si. Anggota Tim Promotor Prof. Dr. Drs. Josy Adiwisastra dan Dr. Dra. Rita Myrna, M.S. serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Dr. Drs. H. Heru Nurasa, M.A.,  Dr. Dra. Hj. Sintaningrum, M.T. dan Dr. Ramadhan Pancasilawan, S.Sos., M.Si. Representasi Guru Besar Prof. Drs. Yanyan M. Yani, MAIR., Ph.D. Disertasi yang disusun berjudul “Kolaborasi Stakeholder dalam Pengelolaan Destinasi Pariwisata di Kabupaten Gunungkidul”, yang dinyatakan lulus dengan predikat Memuaskan.

Disertasi yang diujikan menurut Mita Widyastuti, Kolaborasi governance sebagai tata kelola baru menggeser tata kelola yang sarwa negara ke pelibatan sebanyak mungkin stakeholder seringkali diterapkan secara formalistis. Dalam banyak kasus kolaborasi berhasil diaplikasikan dalam pengelolaan lingkungan, manajemen sumberdaya alam, tata kota, penelitian, namun kurang berhasil diaplikasikan dalam pariwisata (McComb, Boyd dan Boluk, 2016; Kaka, 2015; Zeppel, 2006) Dalam sedikit kasus, pengelolaan kolaboratif destinasi pariwisata di Kabupaten Gunungkidul menunjukkan keberhasilan. Masyarakat Gunungkidul yang agraris berhasil bertransformasi ke sector jasa (pariwisata). Citra Gunungkidul yang identic dengan kemiskinan, kelaparan dan kekeringan dapat sedikit demi sedikit dihapus dalam perbincangan publik.  Keberhasilan kolaborasi tersebut menarik untuk dilakukan penelitian/kajian. Model kolaborasi dari Ansell dan Gash (2007) dipakai sebagai pisau analisis dengan pertimbangan fenomena  pariwisata di Gunungkidul sesuai karakteristik yang dikemukakan  Ansell & Gash, bahwa konteks kolaborasi (starting condition, facilitative leadership dan institutional design) dan proses kolaborasi (face to face dialogue, trust building, commitmen to the process, shared understanding dan intermediate outcome) diharapkan dapat menjelaskan keberhasilan pariwisata kolaboratif. Penelitian merupakan studi kasus yang dilakukan di 3  desa wisata, yaitu Nglanggeran, Bleberan dan Bejiharjo. Informan penelitian diambil dari stakeholder yang terlibat antara lain Dinas Pariwisata DIY, Dinas Pariwisata Gunungkidul, Bapeda, Pengelola Desa Wisata, BUMDesa, DPRD, akademisi dan masyarakat yang terlibat dalam pariwisata.

Penelitian menemukan bukti empiris bahwa konteks dan proses kolaborasi dapat menjelaskan keberhasilan kolaborasi stakeholder. Dari variable konteks kolaborasi yaitu starting condition, fasilitative leadership dan institutional design maka fasilitative leadership merupakan factor yang dominan. Peneliti menemukan bahwa konsep Ansell & Gash yang menyatakan kolaborasi diinisiasi oleh actor public memiliki variasi yang lain, kolaborasi di Gunungkidul diinisiasi oleh masyarakat, perguruan tinggi, kelompok pecinta alam dan organisasi social.   Dengan adanya model pengelolaan pariwisata kolaboratif yang diterapkan Kabupaten Gunungkidul selama ini artinya Gunungkidul telah menerapkan strategi community based tourism dan peneliti menyebutnya dengan community based collaboration.

Kata Kunci:  kolaborasi stakeholder, desa wisata, community based tourism

Selamat kepada Dr. Dra. Mita Widyastuti, M.Si. semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan memajukan dunia pendidikan serta instansi tempat mengabdi.

(Oleh : Komar K., Kusman R. /Humas FISIP Unpad)

http://pps.fisip.unpad.ac.id