Bandung- Rabu, 15 April 2020 (13.00), Dilaksanakan Via Daring Google Meeting melalui link https://meet.google.com/jyu-pyeb-mtw, Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan Sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Sulistyo yang merupakan mahasiswa Doktor Program Studi Ilmu Hubungan Internasional dan sebagai Direktur Deteksi Ancaman di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia, resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi doktor.

Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata  Sekretaris Sidang Dr. Wawan Budi Darmawan, S.IP.,M.Si., Ketua Tim Promotor Prof. Dr. Arry Bainus, M.A, Anggota Tim Promotor Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata dan Drs. Taufik Hidayat, M.A., Ph.D. serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Dr. Wawan Budi Darmawan, S.IP.,M.Si,  Dr. Arfin Sudirman, S.IP., MIR, dan  Dr. Windy Dermawan, S.IP., M.Si.  Representasi Guru Besar Prof. Dr. H. Nandang Alamsah Deliarnoor, S.H., M.Hum. Disertasi yang disusun berjudul “Diplomasi Siber Indonesia dalam menghadapi Potensi Konflik Siber”, yang dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

Disertasi yang diujikan menurut Sulistyo, Perkembangan teknologi siber saat ini telah melahirkan ancaman baru suatu negara. Konflik yang terjadi bukan hanya bersifat militeristik tetapi sudah menjadikan ruang siber sebagai konflik keamanan non-tradisional melainkan di dunia siber. Hal ini menandakan bahwa pergeseran makna keamanan dari tradisional menjadi non-tradisional semakin nyata adanya. Infrastruktur informasi kritis seperti pembangkit listrik, perbankan, transportasi dan lain-lain dapat menjadi objek serangan siber, baik dari dalam maupun luar negeri. Penelitian ini berangkat dari sebuah permasalahan yang diangkat mengenai bagaimana diplomasi siber Indonesia dalam menghadapi potensi konflik siber dengan negara lain.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Alasan pemilihan metode penelitian kualitatif ini dikarenakan fenomena yang diteliti adalah sebuah fenomena yang memiliki karakteristik unik dan kompleks, sehingga membutuhkan analisis yang mendalam terhadap fenomena yang demikian. Selain itu, guna mendukung metode ini peneliti juga menggunakan strategi penelitian studi kasus di mana peneliti akan mengungkap secara mendalam atas suatu program, kejadian, kegiatan, dan proses tertentu.

Indonesia sebagai negara yang tidak luput dari ancaman konflik siber juga harus berkaca dari negara-negara seperti Georgia dan Russia yang pernah terlibat konflik siber. Bentuk dan model penanganan konflik siber menjadi penting untuk dimiliki dalam strategi keamanan negara guna meminimalisasi terjadinya perang siber. Guna menjawab tantangan tersebut, konsep diplomasi siber menjadi alat dalam pencegahan konflik siber yang berpotensi terjadi antara Indonesia dengan negara lainnya. Melalui kerja sama keamanan bilateral maupun regional merupakan langkah yang harus ditempuh dalam rangka tindakan membangun kepercayaan di antara dua negara maupun di dalam kawasan. Melalui Badan Siber dan Sandi Negara, Indonesia telah menjalankan diplomasi preventif sebagai wujud untuk mencapai kepentingan nasional.

Kata Kunci: Konflik Siber, Diplomasi Siber, Keamanan Siber.

Selamat kepada Dr. Sulistyo, S.Si., S.T., M.Si. semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan memajukan dunia pendidikan serta instansi tempat mengabdi.

(Oleh : Komar K., Kusman R. / Humas FISIP Unpad)

http://pps.fisip.unpad.ac.id