Pemaparan Promovendus

Bandung- Kamis, 13 Agustus 2020 (09.00), Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor dilaksanakan  Daring via Zoom.us, pada kesempatan ini Sakti Ritonga yang merupakan mahasiswa Doktor Program   Studi   Antropologi   dan   sebagai   Dosen   Tetap   Fakultas   Ilmu    Sosial   Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang

Disertasi yang diujikan menurut Sakti Ritonga, Disertasi ini mengkaji praktik  kekerabatan sebagai strategi penghidupan migran Batak Toba di Asahan terhadap sumber daya tanah, tenaga kerja dan modal ekonomi. Migran dalam studi ini merupakan generasi kedua yaitu keturunan generasi pertama migran yang berpindah antara tahun 1800an hingga tahun 1930an. Studi yang terfokus pada tindakan agen dilakukan melalui perspektif teori praktik dari Bourdieu dengan menggunakan metode etnografi. Satuan analisis secara berjenjang yaitu individu, keluarga, kelompok keturunan dan marga, serta komunitas Batak Toba di Bandar Pulau, Bandar Pasir Mandoge dan Buntu Pane.

Temuan studi memperlihatkan migrasi Batak Toba ke Asahan berlangsung secara  bertahap dan spontan. Kaum migran tersebut datang dari berbagai wilayah kampung dan marga. Kebanyakan kaum migran merupakan petani, sebagian kecil pedagang, dan pencari kerja di perkebunan milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Perpindahan dilakukan oleh anak-anak muda atau rombongan, dibantu jaringan keluarga, marga, dan keturunan yang memudahkan perpindahan serta memberikan perlindungan materi dan psikologis menghadapi kesulitan penghidupan sembari terus menerus menyerap pendatang Batak Toba. Faktor kenyamanan hidup, selain desakan geografis, demografis, dan kebutuhan penghidupan, merupakan penyebab terpenting terjadi dan bertahannya migran walaupun mereka harus mengembangkan berbagai siasat adaptasi serta memunculkan tantangan bagi tarombo mereka.

Sejarah perkampungan Batak Toba di pedalaman berkembang dalam struktur penguasaan yang ganti-berganti yang memunculkan keragaman serta kontestasi kepentingan. Pengambilan identitas Melayu-Islam memudahkan adaptasi Batak Toba di Asahan. Ruang kelompok kesukuan yang tertutup membuat situasi kehidupan bertumbuh sebagai siasat menguatkan relasi kekerabatan dan membangun kemandirian sebagai satuan kekerabatan berkorporasi. Walaupun ada percampuran atribut-atribut budaya seperti bahasa, ritual adat dan agama, di antara Batak  dan Melayu, tetapi struktur kekerabatan Batak Toba tetap mengacu kepada sistem patrilineal sebagai bagian penting penanda identitas. Ajaran Islam tentang waris sejajar dengan dan semakin meneguhkan prinsip kekerabatan Batak Toba.

Meskipun aspek kehidupan yang lain berubah, praktik kekerabatan sebagai strategi penghidupan sangat penting pada orang Batak Toba di perantauan, dengan fokus kepada penguasaan dan pengelolaan sumber daya penghidupan. Jika pada generasi pertama migran praktik kekerabatan untuk mengakses sumber daya dilakukan dengan pengaburan identitas kesukuan, pada generasi kedua justeru dinyatakan melalui praktik penonjolan identitas kesukuan. Tidak terdapat perbedaan praktik kekerabatan sebagai strategi penghidupan di antara kelas sosial

petani di perkampungan di mana penghidupan mereka bergantung pada jaringan kekerabatan. Praktik kekerabatan dalam strategi penghidupan didasarkan atas ideologi kekerabatan yang mengajarkan kesatuan, tolong menolong, hak dan kewajiban resiprositas pertukaran bantuan untuk memperoleh keuntungan.

Kontestasi terhadap sumber daya semakin rumit, sehingga tidak semua sengketa sumber daya bisa diselesaikan melalui kekuatan kekerabatan. Meski penggunaan jaringan marga atau  keturunan menjadi terbatasi, tetapi praktik kekerabatan dalam strategi penghidupan ke depan bertahan, kendatipun ada perubahan sumber penghidupan ke sistem perkebunan industri serta ekonomi pasar. Jadi fungsi praktis kekerabatan bagi penghidupan tidak terbatas pada pertanian perdesaan. Studi ini memperlihatkan, sistem patrilineal Batak Toba yang sangat kuat juga amat dinamis serta lentur dalam aturan dan praktiknya, sehingga akhirnya menjadi pola yang berkelanjutan

Kata Kunci: migrasi, praktik kekerabatan, Batak Toba, strategi penghidupan, perkampungan kesukuan.

Ketua Sidang                                    Sekretaris Sidang                                   Ketua Promotor

                                         AnggotaTim Promotor                                         Tim Penguji/Oponen Ahli

                                        Tim Oponen Ahli/Penguji                                           Representasi Guru Besar

Sidang Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Rini S. Soemarwoto, S.Psi.,M.A.,Ph.D. Ketua Tim Promotor Prof. H. Oekan S. Abdoellah, M.A.,Ph.D. Anggota Tim Promotor Dr. Dra. Budiawati Supangkat, M.A., dan Dr. Dra. Selly Riawanti, M.A. serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Dr. Drs. Budi Rajab, M.Si. Junardi Harahap, S.Sos.,M.Si., Ph.D. dan Rini S. Soemarwoto, S.Psi.,M.A.,Ph.D. Representasi Guru Besar Prof. Johan Iskandar, MSc., PhD. Disertasi yang disusun berjudul Praktik Kekerabatan Migran Batak Toba pada Perkampungan di Kabupaten Asahan, yang dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.

Selamat kepada Dr. Sakti Ritonga, S.Ag., M.Pd.. semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan memajukan dunia pendidikan serta instansi tempat mengabdi.

 

(Oleh : Komar K., Kusman R. / Humas FISIP Unpad)

 

http://pps.fisip.unpad.ac.id