
Promovendus
Laporan Kusman R, Humas FISIP Unpad
[pps.fisip.unpad.ac.id, 24/01/2022] Bandung – Senin, 09 Januari 2022 (09.00), Daring via Zoom.us, Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Dede Mulyanto yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Antropologi resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.
Promovendus dilahirkan di Indramayu, pada tanggal 3 Mei 1978 dari pasangan almarhum Suhadi dan Omih, sebagai akan ke-6 dari 6 bersaudara. Pernikahannya dengan Hazar Kusmayanti dikaruniai seorang putri yaitu Mentari Kinaraya.
Pendidikan dasar diselesaikannya di SD Muhammadiyah Haurgeulis (Indramayu) pada tahun 1991, pendidikan menengah pertama diselesaikan di SMP Muhammadiyah Srandakan (Yogyakarta) pada tahun 1994, pendidikan menengah atas diselesaikan di SMAN 3 Bantul (Yogyakarta) pada tahun 1996, pendidikan sarjana diselesaikan di Jurusan Antropologi Universitas Padjadjaran pada tahun 2003, pendidikan magister di selesaikan di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada pada tahun 2010, dan pada semester gasal tahun akademik 2018/2019 masuk kuliah Program Doktor Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung.
Pada saat ini Promovendus bekerja sebagai aparatus sipil negara di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Disertasi yang diujikan menurut Dede Mulyanto Seperti tentang kawasan pegunungan di daerah tropis lain di dunia, perubahan bentang lahan dari hutan tropis jadi lahan lebih terbuka selalu ditautkan dengan perluasan lahan pertanian akibat pertumbuhan penduduk tak terkendali. Di sisi lain, intensifikasi budidaya lahan kering, terutama yang berbasis tanaman musiman di pegunungan yang dianggap meningkatkan risiko erosi serta kerusakan tanah, tidak hanya didorong tingginya tekanan populasi atas lahan karena pertumbuhan penduduk tak terkendali, tapi juga kemiskinan dan ketidaktahuan petani dalam pengelolaan lahan. Dengan kata lain, degradasi lahan dan intensifikasi lahan kering merupakan hasil kelindan faktor-faktor demografis dan psikologis. Memanfaatkan pendekatan ekologi politik, penelitian ini menelusuri lebih lanjut konteks lebih luas dari faktor demografis dan psikologis tersebut. Dirumuskan ke dalam bentuk pertanyaan, berikut ini masalah penelitian ini:
- Kapan, bagaimana, dan siapa saja pelaku yang turut menyumbang deforestasi penyebab makin terbukanya lahan di Citarum Hulu serta apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya?
- Di mana peran budidaya lahan kering dan perubahannya dalam deforestasi serta faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertaliannya?
- Bagaimana intensifikasi budidaya lahan kering berbasis sayuran subtropis yang ditengarai berperan dalam erosi dan kerusakan tanah di pegunungan sebetulnya berlaku dan apa saja faktor pengaruhnya?
Orisinalitas Penelitian:
Berbagai studi telah menunjukkan telah terjadi degradasi lahan di Citarum Hulu dan dampak-dampaknya. Tapi, keterbatasan metodologis studi-studi tersebut berujung pada pengulangan opini yang belum terbuktikan secara historis perihal bagaimana tekanan populasi terhadap lahan bersumbangsih terhadap degradasi lahan. Faktor-faktor historis terkait bagaimana dan di mana kedudukan negara (kolonial dan pascakolonial) juga selalu absen atau sekadar sebagai asumsi belaka.
Di sisi lain, studi tentang bentuk budidaya lahan kering di Citarum Hulu hanya berkutat pada praktik wanatani yang dianggap konservatif terhadap tanah. Itu pun tanpa telusuran historis yang memungkinkan tinjauan keberlanjutan masa depannya. Budidaya lahan kering berbasis pertanian sayuran subtropis, yang dianggap bentuk paling degradatif terhadap tanah, masih luput dari perhatian dan tersirat dilihat hanya sebagai produk perilaku dan cara pikir petani, tanpa mengindahkan riwayat politik, sosial-budaya, dan ekologi di balik perilaku dan cara pikir tersebut.
Disain Penelitian:
Ada dua objek berbeda tapi serempak dituju dalam penelitian ini: degradasi lahan dan intensifikasi budidaya lahan kering berbasis sayuran subtropis di pegunungan.
Penelitian atas degradasi lahan dilakukan dengan pendekatan sejarah bentang lahan. Citarum Hulu dipilih karena termasuk daerah dataran tinggi di Jawa dengan kepadatan penduduk terendah di awal masa kolonial sekaligus kawasan yang pertama kali dijadikan daerah penerapan kebijakan-kebijakan kolonial terkait lahan dan populasi sehingga bisa dijadikan objek uji atas teori-teori degradasi lahan.
Studi tentang aspek sosial-ekonomi degradasi tanah dilaksanakan di kampung Cikembang Kolot, Desa Cikembang, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Kampung yang terletak di ketinggian 1400-1600 m dpl ini adalah satu di antara sedikit kampung di pegunungan Citarum Hulu yang merupakan daerah lahan kering par excellent dan terbentuk selama ekspansi perkebunan kina dan teh di dasawarsa akhir abad ke-19 serta perkembangan budidaya lahannya bisa dijadikan objek pengujian pengaruh vertikalitas geoekologi, dinamika populasi, dan tekanan-tekanan terkait relasi produksi dan pertukaran sebagaimana diasumsikan teori-teori yang telah dibahas sebelumnya.
Penelitian terhadap dua objek dilakukan relatif serempat, maksudnya studi atas bahan-bahan historis degradasi lahan Citarum Hulu dilakukan bersamaan masanya dengan penelitian etnografi sejak awal disetujuinya topik penelitian ini (Agustus 2019). Studi historis dilakukan dengan penelusuran dokumen-dokumen resmi seperti undang- undang, laporan-laporan resmi, catatan perjalanan, publikasi statistik, peta-peta lama, dan foto-foto tentang atau terkait kawasan Citarum Hulu. Juga dari berbagai hasil penelitian kolonial tentang aspek-aspek tertentu yang menggambarkan keadaan kawasan di masa silam. Selain di Arsip Nasional Republik Indonesia dan Perpustakaan Nasional (Jakarta), penelusuran juga dilakukan melalui portal atau sumber-sumber penyimpanan arsip digital.
Secara umum, penelitian di kampung Cikembang Kolot dilakukan dengan peneliti secara terputus-putus, tidak tinggal terus-menerus di situ sampai batas waktu tertentu yang memadai untuk penelitian etnografis. Alih-alih peneliti tinggal terputus-putus setidaknya selama 3 hari setiap pekan selama rentang Agustus 2019 hingga September 2020. Kelemahan ini ditutupi dengan penelitian intensif selama 2 kali yang di situ peneliti tinggal terus-menerus dengan durasi masing-masing 40 hari antara Desember 2020 hingga Maret 2021. Selain keterangan etnografis, selama waktu-waktu tersebut peneliti mengumpulkan keterangan dengan (1) survei pendahuluan terhadap 41 orang, (2) sensus terhadap seluruh rumahtangga (n=607), (3) survei pertanian dengan wawancara mendalam terhadap 24 petani dan pengamatan terhadap praktik budidaya 39 petak lahan, dan (4) studi kasus-kasus.
Sistematika Penyusunan Disertasi
Penyusunan disertasi ini telah sesuai dengan sistematika menurut ketentuan yang berlaku pada program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
Hasil Penelitian dan Manfaatnya
Hasil penelitian disertasi ini dituangkan dalam beberapa poin sebagai berikut: Terkait degradasi lahan:
- Deforestasi sudah berlangsung di Citarum Hulu dimulai sejak 1720, ketika jumlah populasi masih sangat rendah,
- Hingga akhir abad ke-18, deforestasi terkait dengan perluasan penanaman yang menunut dua hal: 1) hutan untuk perluasan perkebunan kopi itu sendiri dan 2) lahan garapan baru bagi setiap tambahan tenaga kerja yang dieksploitasi lewat tanam paksa tersebut seiring terus naiknya tuntutan setoran kopi bagi pemerintah kolonial dan padi bagi penguasa pribumi,
- Sejak 1785, para petani yang dieksploitasi lewat tanam paksa dilarang menanam tanaman pangan secara tumpangsari di kebun-kebun kopi, tuntutan akan lahan pun garapan guna menghidup keluarga tani membesar menyebabkan deforestasi melaju lebih cepat,
- Sejak awal abad ke-19 tanaman introduksi yang semuanya tanaman lahan kering mulai diperkenalkan guna mengurangi ketergantungan petani kepada padi yang merupakan barang komoditas bagi penguasa pribumi dan keterbatasan lahan yang dapat diubah menjadi sawah. Hal ini memperbesar peluang perluasan lahan garapan berbasis lahan kering untuk menghidupi petani dan perluasan kebun kopi yang digenjot sebagai tukar guling penurunan harga kopi global.
- Pada 1828, model perkebunan monokultur diterapkan. Alih-alih ditanam secara tumpang sari di pekarangan atau hutan, kebun-kebun kopi dibuat dari membabat hutan perawan penuh humus. Hingga 1850an, porsi kebun kopi semacam ini kian dominan dan menjadi model untuk perkebunan non-kopi setelah penghapusan tanam paksa 1870.
- Pada awal abad ke-19, 34% lahan kawasan merupakan perkebunan kopi, sedang lahan garapan hanya 4% dari total luas kawasan. Artinya, bukan tekanan populasi
atas lahan yang mendorong deforestasi, tapi tekanan ekonomi kolonial. Hingga 1870, populasi kawasan masih terbilang rendah, antara 10-15 jiwa/km2.
- Sejak 1870, migrasi masuk, pertumbuhan penduduk, pembangunan infrastruktur jalan dan rel kereta, pemberian konsesi hak guna usaha perkebunan kepada swasta mendorong laju deforestasi 1400-2000 hektar/tahun antara 1870-1914, sementara laju perluasan lahan garapan hanya 100-200 bahu/tahun selama periode yang sama. Artinya, bukan tekanan populasi terhadap lahan yang mendorong degradasi lahan tapi tuntutan pasar global akan komoditas ekspor.
- Tekanan populasi terhadap lahan baru menunjukkan perannya terhadap perubahan budidaya sejak abad ke-20 dengan konteks teritorialisasi negara dan pembatasan legal bagi perluasan lahan garapan yang diakibatkannya. Proses ini membuka peluang bagi pemilik modal untuk menguasai ‘tanah negara’ di satu sisi, dan pasokan tenaga kerja tetap di sisi lain karena ketimpangan agraria tinggi. Proses ini meningkatkan marjinalisasi, baik sosial terhadap petani berlahan sempit untuk tersingkir dari peluang mengubah lahannya menjadi sawah (yang merupakan lahan budidaya paling intensif saat itu) maupun ekologis terhadap lahan-lahan kering di pegunungan yang ‘terpaksa’ diintensifkan pemanfaatannya karena ruang manuver untuk bentuk-bentuk budidaya tradisional (huma, tipar—atau sistem kebun-talun) telah tertutup.
- Sejak peralihan abad ke-20, langkah menuju intensifikasi lahan kering menguat karena: 1) tercapainya batas-batas legal bagi pertanian ekstensif, 2) urbanisasi kawasan oleh masuknya populasi non-pribumi berkat perkembangan ekonomi perkebunan, 3) permintaan akan hasil bumi dari lahan kering, khususnya tanaman introduksi, meningkat secara global dan regional, 4) diperkenalkannya agrokimia sintetis melalui perkebunan-perkebunan swasta.
- Perubahan-perubahan pascakolonial hanya memperkuat hasil dari proses yang telah dipancangkan sebelumnya: ketimpangan agraria, marjinalisasi lahan kering, eksploitasi struktural, dan diferensiasi demografis.
Terkait intensifikasi lahan kering dan kerusakan tanah:
- Budidaya lahan kering berbasis sayuran subtropis di pegunungan saat ini telah sedemikian intensif dalam arti 1) lahan digarap nyaris sepanjang tahun dan 2) pemakaian agrokimia sintetis yang massif.
- Keduanya didorong kepentingan petani sebagai produsen komoditas yang harus mereproduksi usaha taninya dengan komoditas
- Kepentingan negara demi stabilitas pasokan hasil tani juga mendorongnya sejak 1970an,
- Watak subtropis tanaman budidayanya juga berperan. Tanaman daerah subtropis tidak hanya menuntut panjangnya penyinaran matahari, tapi juga pengatusan efektif dan segera. Ketika ditanam di daerah tropis dengan pendeknya masa penyinaran matahari dan tingginya curah hujan, tuntutan itu dipenuhi dengan penyiapan lahan yang memungkinkan air hujan teratus secara sempurna dari tanah. Akibatnya erosi mengikis bunga tanah dan kelabilan tingkat keasaman tanah tinggi. Pada gilirannya, dua hal ini menuntut penambahan asupan agrokimia sintetis untuk mempertahankan daya metabolisme tumbuhan yang gagal diberikan penyinaran pendek dan keasaman tanah labil.
- Tekanan agronomis ini ada dalam eksploitasi struktural terhadap petani terkait marjin harga jual relatif terhadap ongkos produksi karena tingginya harga produk agrokimia sintetis. Rendahnya marjin dan fluktuatifnya harga hasil panen dipengaruhi dua faktor yang sama-sama historis, yaitu kecilnya skala dan terpencarnya unit produksi. Warisan sejarah ini pula yang menjelaskan keganjilan dalam praktik budidaya lahan kering di desa tineliti, yakni rendahnya produktivitas kerja karena terbatasnya mekanisasi.
Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Dr. Rina Hermawati S.IP., M.SiM.Ketua Promotor . Prof. Oekan Soekotjo Abdoellah, Ph.D. Anggota Tim Promotor Prof. Johan Iskandar, Ph.D. Budhi Gunawan, Ph.D
serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Prof. Parikesit, Ph.D, Soerjo Adiwibowo, Ph.D, Dr. Budi Rajab, M.Si. Representasi Guru Besar Prof. Dr. Sam’un Jaja Rahardja. Disertasi yang disusun berjudul “DEGRADASI LAHAN DAN PERUBAHAN BUDIDAYA LAHAN KERING DI KAWASAN CITARUM HULU, JAWA BARAT: SEBUAH STUDI EKOLOGI POLITIK. ”. yang dinyatakan lulus dengan predikat “ Sangat Memuaskan”
Selamat atas diraihnya gelar Doktor kepada Dr. Dede Mulyanto Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.