Laporan Kusman Rusmana, Humas FISIP Unpad
[pps.fisip.unpad.ac.id, 2-08-2023] Bandung – Rabu, 2 Agustus 2023 (15.30), Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Yana Sundayani yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Kesejahteraan Sosial ,resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.
Promovenda dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 19 September 1966 dari pasangan Bapak Syahidin Harjo dan Ibu Hj. Aisyah, sebagai anak kedua dari dua bersaudara. Pernikahannya dengan Ir. Agus Saleh dikaruniai 2 (dua) orang anak yaitu dr. Athaya Shofiyya Saleh dan Farhan Muharam Saleh (S.Pi). Riwayat Pendidikan: Pendidikan SD diselesaikan pada tahun 1979 di SDN Dadaha I Tasikmalaya; SMP diselesaikan pada tahun 1982 di SMPN 4 Tasikmalaya, SMA diselesaikan pada tahun 1985 di SMAN 1 Tasikmalaya, Jenjang pendidikan Sarjana Pekerjaan Sosial lulus pada tahun 1990 di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung, Program Magister diselesaikan tahun 2004 di Universitas Pendidikan Indonesia, dan pada semester ganjil tahun akademik 2017/2018 masuk kuliah Program Doktor Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung. Riwayat Jabatan/Pekerjaan, pada saat ini Promovendus menjabat sebagai Dosen Tetap di Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung..
Disertasi yang diujikan menurut Yana Sundayani Resiliensi merupakan kompetensi yang paling tepat dalam menyikapi beratnya tantangan hidup, bahkan disebut sebagai salah satu modal kompetensi pada abad ke-21 (Olson dan DeFrain, 2003; Hendriani, 2019). Studi yang telah dilakukan di Filipina, Vietnam dan Indonesia, membuktikan bahwa sementara anak-anak dari orang tua migran, terutama ibu sebagai migran, kurang bahagia dibandingkan dengan anak-anak di rumah tangga nonmigran, ketahanan yang lebih besar dalam kesejahteraan anak dikaitkan dengan durasi ketidakhadiran ibu yang lebih lama (Jordan, Graham, 2012).
Seringkali peristiwa antara satu negara dengan negara lain, misalnya selama beberapa dekade terakhir, penelitian mengenai ”feminisasi” migrasi telah meningkat secara signifikan (Asis, Huang, & Yeoh, 2004; Piper, 2008), pegawai domestik Filipina di Timur Tengah atau perawat di Amerika Serikat, merupakan trend yang relatif baru dalam migrasi tenaga kerja global. Filipina dan Indonesia seringkali disorot sebagai contoh pertumbuhan feminisasi karena diperkirakan lebih dari 70% penempatan pekerja asing di kedua negara (Asis, 2003). Studi terdahulu menunjukkan bahwa pengaturan keluarga transnasional menimbulkan persoalan emosional bagi anak-anak yang tetap tinggal di negara pengirim meskipun keamanan materi mereka ditingkatkan. Namun, beberapa studi tentang negara-negara pengirim Amerika Latin, kemungkinan tidak dapat diterapkan secara langsung di Asia Tenggara karena perbedaan budaya dan pola migrasi (Dreby, 2007; Orellana, Thorne, Chee, & Lam, 2001). Anak/remaja menjadi reseptif (benci) pada orang tua (Reyes, 2008), Anak memberi respon positif pada ayahnya yang bekerja di sektor formal, sebaliknya respon negatif terhadap ibu sebagai pekerja migran di sektor domestik (Purwatiningsih, 2016).
Berbagai bidang penelitian resiliensi dengan dukungan sosial pada saat ini telah berkembang. Penelitian pada sektor kesehatan oleh (Holaday & McPhearson, 1997) dan Bahryni et al. (2016), kesehatan mental Cahill (2014); ketahanan anak dengan orang tua di penjara Nesmith & Ruhland (2008), Poehlmann-Tynan et al., (2017), Kremer et al., (2020), Johnson & Arditti (2023), Febrianti (2023); ketahanan dengan bencana Ager et al. (2010), Masten (2021).
Bahwa menjadi keniscayaan dalam melakukan penelitian resiliesni remaja – selaku individu – dikaji menggunakan perspektif ekologi (Bronfenbenner (1998); Netting (1993) dan Zastrow (2017). Masten (2021) mengemukakan mempelajari ketahahan seiring dengan tahapan perkembangan dan ketahanan sistem yang saling berhubungan secara kontekstual, baik secara horizontal maupun vertikal. Anak remaja yang ditinggalkan orang tuanya (ayah ibu/ayah/ibu) bekerja ke luar negeri lebih banyak mengarah pada hal yang negatif. Namun Penulis lebih menyoroti pada perspektif positif terkait resiliensi remaja karena adanya dukungan sosial walaupun tanpa kehadiran orang tua terutama seorang ibu yang bekerja sebagai pekerja migran internasional. Dengan memberikan penekanan pada analisis keterkaitan antara dukungan sosial dengan resiliensi, studi ini mencoba untuk menjawab berapa besar pengaruh dukungan sosial terhadap resiliensi remaja anak pekerja migran internasional.
Penelitian yang secara spesifik mengangkat keterkaitan antara dukungan sosial keluarga, teman, komunitas terhadap resiliensi remaja anak pekerja migran internasional masih sangat terbatas. Hasil Penelitian di bidang resiliensi, dukungan sosial, kesejahteraan dari Jordan & Graham (2012) di Indonesia, Filipina dan Vietnam hasil menunjukkan bahwa anak-anak dari orang tua migran, terutama ibu migran, kurang bahagia dibandingkan dengan anak-anak di rumah tangga non migran, lebih dikarenakan bukan semata ketiadaan ibu, tapi karena fungsi keluarga, kesehatan mental pengasuh dalam fungsi mereka pada keseharian dibandingkan ketidakhadiran orang tua; Penelitian Yoleri (2020) membuktikan usia ditemukan signifikan sebagai prediktor resiliensi, skor resiliensi anak-anak meningkat seiring bertambahnya usia; Alzahrania (2021) meneliti membangun ketahanan pada anak kecil perlu memperhatikan interaksi sosial. Studi lain seperti dikemukakan Jamison et al. (2023), temuan menyoroti pentingnya sumber daya interpersonal dan sekolah dalam memfasilitasi ketahanan; Gatt et al. (2020) melakukan studi internasional bertujuan untuk mengeksplorasi perbedaan perilaku ketahanan, kesejahteraan, dan kesehatan mental pada remaja migran dan non-migran yang diuji di enam negara (Australia, Selandia Baru, Inggris, Cina, Afrika Selatan, dan Kanada);
Alfiasari (2022) menemukan bahwa anak terlantar yang ibunya bekerja sebagai pekerja migran internasional, lebih rentan terhadap kesejahteraan. Penelitian Alfiasari (2023) tentang pola asuh, dukungan sosial, teman sebaya dan guru mempunyai hubungan positif signifikan terhadap penyesuaian diri remaja pada keluarga Pekerja Migran Internasional; Lestari (2021) menegaskan resiliensi remaja dengan orang tua non-Tenaga Kerja Indonesia, lebih tinggi daripada remaja dengan orang tua yang bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia. Studi membuktikan bahwa resiliensi dipengaruhi oleh dukungan sosial beserta orang-orang sekitar yang signifikan dapat memberi manfaat dan kebahagiaan bagi yang menerimanya. Oleh karena itu, Penulisan ini menyajikan kerangka pemikiran yang disusun dengan mengkaji dukungan sosial terhadap resiliensi (Zastrow, 2017). Hal ini digunakan untuk memperkuat pada semua tingkat interaktif dari remaja dengan lingkungannya. Resiliensi dapat dioptimalkan ketika faktor protektif diperkuat pada semua tingkat interaktif dari remaja dengan lingkungannya. Ketahanan didasarkan pada transaksi yang kompleks dan dua arah antara individu dan konteksnya, sifat interaksi dari remaja dengan lingkungan terlibat secara dinamis dan timbal balik. Masten (2021) menyebut sebagai sistem terintegrasi
Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Dr, Muhammad Fedryansyah, S.Sos., M.Si , Ketua Promotor . Prof. Dr., Dra. Hj. Nunung Nurwati, M.S Anggota Tim Promotor Dra. Binahayati, MSW., Ph.D, Prof. Dr. Adi Fahrudin serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Hj. Diana Harding, M.Si, Psikolog. Drs. Budhi Gunawan, M.A., Ph.D, Dr. Kanya Eka Santi, MSW. Representasi Guru Besar Prof. Ida Widianingsih, S.IP., M.A, Ph.D Disertasi yang disusun berjudul “PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP RESILIENSI: STUDI DI KALANGAN REMAJA ANAK PEKERJA MIGRAN INTERNASIONAL”. yang dinyatakan lulus dengan predikat “Memuaskan”
Selamat atas diraihnya gelar Doktor kepada Dr. Yana Sundayani Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.


