Laporan Kusman Rusmana, Humas FISIP Unpad
[pps.fisip.unpad.ac.id, 02/02/2024] Bandung – Jumat 02 Pebruari 2022 (13.30), Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Andaru Satnyoto yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Hubungan Internasional resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.
Promovendus dilahirkan di Gunung Kidul pada tanggal 6 Juni 1966, dari pasangan Bapak Soekamto Hadi Pranoto dan Ibu Sri Robiasih, sebagai anak ke-6 dari sembilan bersaudara. Pernikahannya dengan Lisna Sianipar, S.Sos., dikaruniai dua orang anak : Samuel Anderssen, S.Kom., dan Darrell Andrew Gracia. Riwayat Pendidikan, SD Negeri Banyubening III, selesai tahun 1979; SMP Negeri Bejiharjo, selesai 1982; SMA Negeri I, Wonosari, Gunung Kidul selesai 1985, jenjang Pendidikan Sarjana Hubungan Internasional, FISIPOL, Universitas Gadjah Mada, selesai 1993; melanjutkan Program Magister Hubungan Internasional, FISIP Universitas Indonesia, selesai 2002; dan melanjutkan ke jenjang Program Doktor Hubungan Internasional FISIP Universitas Padjajaran Tahun Ajaran 2016/2017. Pada saat ini Promovendus merupakan Dosen Tetap Program Studi Hubungan internasional, yang diperbantukan di Program Studi Politik, FISIPOL, Universitas Kristen Indonesia.
Disertasi yang diujikan menurut Andaru Satnyoto, Kelapa sawit (nama Latin: Elaeis Guineensis,), tanaman penghasil minyak nabati (vegetable oil) sebagai minyak sawit. Sawit sebagai minyak nabati di pasar global relatif fenomenal, kompetitif dan banyak manfaat produknya. Tanaman sawit, mampu berproduksi sejak umur pohon sekitar 5 tahun, hingga umur 25-30 tahun. Sawit banyak manfaat, atau menguntungkan, baik hasil buahnya maupun produk sampingannya, bahkan sisanya atau limbah masih bisa untuk pupuk organik, tanpa limbah pertanian (zero waste). Sawit bisa diolah untuk keperluan produk lain seperti untuk produk bahan pakan ternak (animal feed), arang (charcoal), bahan bakar nabati (biodiesel), mentega, bahan kosmetik dan produk-produk berkaitan dengan farmasi (pharmaceutical). Oleh karena itu, sawit disebut pula sebagai tanaman perkebunan ajaib, banyak kegunaan dan fleksibel (miracle crop / multipurpose crop / flexible crop). Jika sudah tidak produktif dan ditebang, batang pohon sawit dapat menjadi bahan baku papan partikel kayu buatan, baik sebagai particle board maupun block board, (Kinseng, et.al., 2022; Kantor Berita Antara, 7/4/2006).
Usaha kelapa sawit di indonesia menjanjikan keuntungan dan peluang bisnis menarik, sehingga luas perkebunan terus bertambah. Tahun 1950, luas perkebunan sawit berkisar, 105 ribu hektar; tahun 1985 menjadi 597.352 hektar; tahun 2000 menjadi 3,8 juta hektar; tahun 2010, 8 juta hektar, dan tahun 2020, 14,59 juta hektar; dengan perkiraan masih ada sekitar 2,2 juta hektar dalam proses verifikasi atau total diperkirakan 16,8 juta hektar, (Purba & Sipayung, 2017; BPS, 2021). Sejak tahun 2006 Indonesia telah melewati hasil produksi sawit Malaysia, yang semula mendominasi produksi sawit global. Indonesia pada tahun 1980 baru memproduksi minyak sawit 15%, sedang Malaysia 55%, negara-negara lainnya 30%; tetapi tahun 2016 telah berbalik Indonesia meproduksi 54%, Malaysia 32% dan lainnya 14% (PASPI, 2017).
Sebagian besar sawit Indonesia diekspor ke berbagai negara tujuan, antara lain: India, China dan Uni Eropa, Pakistan, dan Mesir. Dalam 10 tahun terakhir ini, perdagangan minyak sawit di Uni Eropa terus diperdebatkan dan mengalami hambatan.
Fenomena industri sawit dan dinamika perdagangan internasionalnya serta faktor-faktor sosial, politik, ekonomi yang terkait, telah menarik banyak kajian atau riset. Berbagai riset dan penerbitan tentang sawit, antara lain mencakup: aspek pengembangan dan pengelolaan sawit, dampak industri kelapa sawit, keunggulan komparatif dan perdagangan internasional, serta aspek diplomasi ekonomi sawit.
Kelompok pertama, riset sosial, politik dan ekonomi kelapa sawit berkaitan dengan kajian dampak pengembangan kelapa sawit, suplai minyak sawit dan dampak lingkungannya. Kajian rumpun ini juga mencakup banyak aspek-aspek sosial ekonomi, prospek market dan kecederungan permintaan minyak sawit global. Pertumbuhan permintaan minyak nabati global mengubah sistem pangan dunia (re-shaping the world food system), membuat sektor ini sangat dinamis dibandingkan yang lain, mendorong perkembangan pasar minyak sawit sebagai revolusi minyak sawit (palm oil revolution), (Gaskell, 2012). Namun hal ini berpotensi mengorbankan hutan tropis yang kaya keaneka-ragaman hayati. Rumpun riset pengembangan dan dampak sawit ini, banyak terkait dengan aspek negatif lingkungan, kehilangan keanekaragaman hayati, deforestasi, walaupun juga banyak memberikan aspek peran positif, menguntungkan atau kontribusi dari pembangunan kelapa sawit, (Gaskell, 2012; Sheil, et.al., 2009; Pacheco, et.al., 2017; Bessou, 2018; Bou Dib, Alamsyah & Qaim, 2018; Murphy, Goggin and Paterson, 2021; Wigena, Sudrajat dan Siregar, 2018; Pardamean, 2008; Sunarko, 2010; Malangyoedo, 2018; Alim, H.,Windrawan & Achidsti, 2018). Obaideen, 2020; Gunarso,et.al., 2013; Purnomo, et.al., 2020; PASPI, 2017; Oliphant & Simon, 2022; Geramsimchuk & Koh, 2013; Meijaard, et.al., 2020; Schrier-Uijl, et.al., 2013; Shahputra & Zen, 2018; Sari, Falatehan & Ramadhonah, Sari, 2019; Meijaard, et.al., 2013; Barthel, et.al., 2018; Petrenko, Paltseva & Searle, 2016; Paminto, Mahawan K. & Frimawaty, 2022; Tanuwidjaja, 2020; Ritchie, 2021, Choiruzzad, Tyson & Varkkey, 2021).
Kelompok kedua, kelapa sawit dalam kajian dinamika ekonomi perdagangan internasional, dan keunggulan komparatif atau daya saing kelapa sawit di pasar internasional. Namun studi ini umumnya tidak membahas kajian relasi antar negara dan kebijakan (politik) yang mempengaruhi posisi pasar minyak sawit. Kajian berkaitan dengan penelitian kinerja daya saing (competitiveness) komoditas, kontribusi ekonomi dan pasar minyak sawit dalam perdagangan internasional. Daya saing internasional dan efisiensi manajemen industri sawit berkaitan dengan upaya memperkuat pasar sawit Indonesia, sehingga menjaga kontribusi sawit dalam pertumbuhan ekonomi dan dukungan publik untuk pengembangan sawit. Kajian keunggulan komparatif antara lain dengan menggunakan pendekatan tata kelola atau manajemen efisiensi, pendekatan model ekonomi seperti RCA (Revealed Comparative Advantage) / RSCA, CMS (Constant Market Share), Trade Balance Index, dan GTAP, untuk melihat posisi daya saing pasar CPO Indonesia, (Prasetyo, Sri Marwanti & Darsono, 2017; Rifin, 2011; Tampubolon, 2019; Ramadhani, Fahriah & Asmara, 2022; Pacheco, et.al., 2018; Zimmer, 2010; Amalia, Nurkhoiry & Oktarina, 2020; Pratama & Widodo, 2020; Arsyad, et.al., 2020; Wibowo, et.al., 2020; Tandra, et.al., 2022; Rifin, 2009; Zuhdi, et.al., 2021).
Kelompok ketiga, kajian terkait ekonomi politik perdagangan, terutama soal-soal perdagangan internasional, diplomasi dan hubungan internasional, relasi perdagangan (ekonomi) Uni Eropa dan Indonesia. Kajian kelompok ini, mencakup dua aspek penting: Pertama, kajian kebijakan dan regulasi perdagangan internasional Uni Eropa terkait minyak sawit. Aspek kedua, dinamika perdagangan terutama dampak kebijakan dan regulasi, hambatan perdagangan, sengketa, diplomasi dan hubungan internasional Indonesia-Uni Eropa (Erixon, 2009; dan 2012; Lottici, Galperin & Hoppstock, 2014; Bechtel, Bernauer & Meyer, 2011; Radmann, 2021; Pehnelt & Vietze, 2010; Damuri, Atje & Soedjito, 2015; Nugraha, 2021; Hariyadi & Hodijah, 2020; Umarach, 2021; Arifin & Putri, 2019; Alen, Hidayat & Rizki, 2021; Ramadhan, Akbar Syah & Mahmud, 2022; Robertua, 2019; Salam & Juned, 2022; Zulkarnaen, 2019; Montratama, et.al., 2018; Laksono, et.al., 2019; Jokhu, 2022; Bangun, Hidayat & Akim, 2020; Kinseng, et.al., 2023; Sihotang, 2022; Saragih & Rahayu, 2022; Dewi, 2013; Arief, et.al., 2020;Oosterveer, 2020; Rifin, et.al., 2020; Speechley, Ozinga & Saskia, 2019)
Pada masa lalu Indonesia merupakan produsen dan pengekspor banyak komoditas pertanian dan perkebunan, seperti kopi, karet, teh dan lain-lain. Namun saat ini, tinggal sawit yang menjadi menjadi satu-satunya komoditas unggulan di pasar global, yang masih dikuasai Indonesia. Sebagai produsen 59% minyak sawit global dan mengekspor 60% produknya, sawit merupakan produk yang penting Indonesia (BPS, 2021). Dewasa aini, kemampuan kinerja ekspor komoditas tidak hanya ditentukan aspek kompetitifnya, atau daya saing harga, efisiensi dan kualitas produk, tetapi juga aspek regulasi negara dalam ekspor dan impor produk tersebut. Oleh karena itu, menarik untuk meneliti perilaku Indonesia dalam menjaga pasar minyak sawit global, khususnya di Uni Eropa sebagai salah satu tujuan pasar yang penting. Namun belum banyak atau hampir tidak ada penelitian yang khusus membahas strategi Indonesia menghadapi pembatasan sawit di pasar Uni Eropa.
Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang, Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Dr. Wawan Budi Darmawan, SIP.,M.Si , Ketua Promotor . Prof. Dr. Arry Bainus, M.A Anggota Tim Promotor Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Dr. Wawan Budi Darmawan, SIP.,M.Si. serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Dr. Akim, S.IP., M.Si, Dr. Arfin Sudirman, S,IP. MIR, Dr. Windy Dermawan, S.IP., M.Si Representasi Guru Besar Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri, S.E., M.M,Disertasi yang disusun berjudul “STRATEGI INDONESIA MENGHADAPI PROTEKSIONISME HIJAU PERDAGANGAN MINYAK SAWIT DI PASAR UNI EROPA.”. yang dinyatakan lulus dengan predikat “ Sangat Memuaskan”
Selamat atas diraihnya gelar Doktor kepada Dr. Andaru Satnyoto.Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.
