Laporan Kusman Rusmana, Humas FISIP Unpad
[pps.fisip.unpad.ac.id,,Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Henike Primawati yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Hubungan Internasional resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.
Promovenda lahir di Bengkulu pada tanggal 22 Mei 1991 putri pertama dari Bapak Sarjono dan Ibu Desnaharyanti. Promovendus menikah dengan Windy Dermawan dan telah dikaruniai 2 orang anak yaitu Azalea Adeeva Afsheen dan Azkhayra Adreena Annasya. Pendidikan SD, SMP dan SMA di Kota Bengkulu. Jenjang Sarjana (S-1) Hubungan Internasional diselesaikan pada Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi pada Tahun 2012. Magister (S-2) Ilmu Politik konsentrasi Hubungan Internasional diselesaikan pada Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung Tahun 2017. Kemudian pada Tahun 2020 melanjutkan ke jenjang Program Doktor Hubungan Internasional pada Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung. Riwayat Pekerjaan, pada saat ini Promovendus bekerja sebagai Dosen Tetap di Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung.
Disertasi yang diujikan menurut Henike Primawati Riset ini dilatarbelakangi oleh suatu fenomena bahwa kehadiran aktor subnegara di arena internasional semakin mengemuka seiring dengan upaya optimasi pencapaian kepentingan dan kebutuhan subnasional serta pemanfaatan sumber-sumber luar negeri. Keterbatasan kemampuan pemerintah nasional di dalam pemenuhan kebutuhan dan kepentingan daerah pun telah mendorong pemerintah subnasional untuk menjalin hubungan luar negeri dengan aktor lain dengan bersaing secara kompetitif di era globalisasi (Keating, 2013). Aktivitas aktor subnegara di luar negeri atau dapat dikatakan sebagai suatu interaksi yang dijalin dengan aktor lain di luar negeri inilah yang biasa dikenal dengan paradiplomasi (Kuznetsov, 2015).
Massifnya globalisasi dan digitalisasi telah mendorong perkembangan dari perdagangan, investasi, hiburan, pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia umumnya dan di Jawa Barat khususnya. Beberapa realitas perkembangan tersebut pada level nasional misalnya, kenaikan kontribusi ekonomi kreatif terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dalam tiga tahun terakhir terus meningkat terhitung sejak 2020. Hal ini menjadikan Indonesia dengan Produk Domestik Bruto ekonomi kreatif terbesar ketiga di dunia setelah Amerika dengan dan Republik Korea dengan K-Pop (Masitoh, 2022). Sektor ekonomi kreatif saat ini menjadi salah satu sumber dan kekuatan ekonomi baru bagi Indonesia. Sektor ini memberi kontribusi bagi perekonomian Indonesia terhadap perekonomian nasional dengan total produk domestik bruto (PDB) sekitar Rp 1.134,9 triliun pada tahun 2022.
Hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ekonomi kreatif di Jawa Barat mencapai Rp 191,3 triliun. Dari total kontribusi tersebut, subsektor kuliner, fashion dan kriya memberikan kontribusi terbesar pada ekonomi kreatif, subsektor kuliner berkontribusi sebesar 26,4%, fesyen sebesar 16,7%, kriya sebesar 27,1% (Humas Jabar, 2023). Hirauan Jawa Barat terhadap pengembangan ekonomi kreatif ditunjukkan pula dengan keberadaan Komite Ekonomi Kreatif dan Inovasi (Kreasi), dimana provinsi ini sebagai satu-satunya provinsi yang memiliki lembaga Kreasi, suatu lembaga yang dibentuk di tengah pandemi Covid-19 untuk melahirkan inovasi dan solusi bagi permasalahan ekonomi kreatif di Jawa Barat (Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, 2021). Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengeluarkan Rencana Aksi Pengembangan Ekonomi Kreatif (Renaksi Ekraf) 2021-2025, yang diatur berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 44 Tahun 2021.
Provinsi ini memiliki kontribusi penting dalam menggerakkan ekonomi kreatif nasional. Sebagai provinsi dengan kontribusi PDRB terbesar terhadap sektor ekonomi kreatif nasional, Jawa Barat menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan dan keberlanjutan industri kreatif di Indonesia. Provinsi Jawa Barat juga memegang peranan sentral dalam konteks ekspor bidang ekonomi kreatif, dengan kontribusi ekspor ekonomi kreatif nasional mencapai 33,64% pada tahun 2022 (Kemenparekraf RI, 2023). Hal ini menunjukkan bahwa Jawa Barat tidak hanya berperan pada level nasional tetapi juga memiliki dampak berarti dalam membangun citra dan hubungan ekonomi melalui paradiplomasi regional.
Berdasarkan paparan di atas, periset tertarik untuk mengkaji upaya-upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pengembangan ekonomi kreatif melalui praktik paradiplomasi. Riset ini difokuskan pada paradiplomasi ekonomi kreatif pada masa kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil 2018 – 2023. Berdasarkan hal tersebut, periset juga tertarik untuk mengidentifikasi tipe paradiplomasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pengembangan ekonomi kreatif. Lebih jauh lagi, periset menganalisis dinamika paradiplomasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pengembangan ekonomi kreatif pada level global, nasional, subnasional dan individual sebagai sirkumstansi pendorongnya, dilihat dalam konteks internasional maupun domestik.
Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Dr. Wawan Budi Darmawan, SIP.,M.Si , Ketua Promotor . Drs. Taufik Hidayat, M.S., Ph.D. Anggota Tim Promotor Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata. Dr. Akim., S.IP., M.Si serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Arry Bainus, M.A. Dr. Wawan Budi Darmawan, SIP.,M.Si. Dr. Arfin Sudirman, S.IP., MIR, Representasi Guru Besar Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri, S.E., M.M. Disertasi yang disusun berjudul “PARADIPLOMASI PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT PADA BIDANG EKONOMI KREATIF” yang dinyatakan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”
Selamat atas diraihnya gelar Doktor kepada Dr. Henike Primawati Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.
