Laporan  Kusman Rusmana, Humas FISIP Unpad

[pps.fisip.unpad.ac.id 13/02/2024] Bandung – Selasa, 13 Pebruari 2024 (10.00), Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Nikodemus Niko yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Sosiologi resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.

Promovendus dilahirkan di Kampung Pejalu, pada tanggal 26 Januari 1992 dari pasangan Bapak Vinsensius Adel dan Ibu Lusiana Lelen, sebagai anak pertama dari dua bersaudara. Riwayat Pendidikan: Pendidikan SD diselesaikan pada tahun 2004 di SDN 21 Mungguk Tawak, SMP diselesaikan pada tahun 2007 di SMP Katolik Slamet Riyadi Balai, SMA diselesaikan pada tahun 2010 di SMA Katolik Wiyata Mandala Balai. Jenjang Pendidikan Sarjana Sosiologi lulus pada tahun 2014 di Universitas Tanjungpura Pontianak, Program Magister diselesaikan pada tahun 2017 di Universitas Padjadjaran Bandung, dan pada semester genap akademik 2019/2020 masuk kuliah Program Doktor Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung. Riwayat Jabatan/Pekerjaan, pada saat ini Promovendus menjabat sebagai Dosen Tetap di Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Disertasi yang diujikan menurut Nikodemus Niko Pada dasarnya perempuan dan anak-anak di wilayah pedesaan sangat rentan mengalami kemiskinan. Kemiskinan perempuan di wilayah pedesaan juga tidak hanya terjadi di Indonesia, seperti pada situasi konflik di Cambodia yang mengakibatkan kerentanan kemiskinan pada perempuan (Ward & Mouyly, 2013). Kemudian dalam kajiannya, Lai (2011) menyebutkan bahwa pada perempuan Orang Asli di Malaysia yang masih dalam kondisi miskin, mereka memanfaatkan hutan sebagai sumber mata pencaharian dan pendapatan. Secara teoritis, situasi ini disebut sebagai kemiskinan struktural yang artinya adalah suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber pada struktur yang memiskinkan, dan oleh karena itu dapat dicari pada struktur sosial yang berlaku sehingga mereka yang termasuk ke dalam golongan miskin tampak tidak berdaya mengubah nasibnya (Bagong, 2001). Artinya bahwa Kondisi miskin ini bukan karena orang malas bekerja, melainkan karena adanya struktur yang memindas dan mengatasnamakan pembangunan.

Berpijak pada pendapat Shiva (1997) lagi-lagi atas nama pembangunan yang merupakan perluasan ekonomi patriarki modern, yang mana pembangunan itu sendiri berartikan penghancuran perempuan, alam dan kebudayaan. Kemudian, kajian Kumar & Prasad (2004) yang berfokus pada kemiskinan pada komunitas etnik Indo-Fijian di Fiji menyebutkan bahwa komunitas tersebut miskin sebagai akibat dari kondisi politik yang tidak berkeadilan terhadap etnik minoritas di negara tersebut. Pada sisi lain, Gradin (2015) juga menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkan kemiskinan sangat tinggi pada kalangan etnik minoritas di China dikarenakan rendahnya kesempatan mengakses ekonomi, pendidikan yang rendah dan ketidakberdayaan dalam mengakses pasar.

Keterbatasan-keterbatasan perempuan terlepas dari belenggu kemiskinan tidak hanya melulu persoalan ekonomi semata, melainkan terdapat persoalan yang sudah multidimensional, di mana terdapat indikator-indikator seperti; dimensi sosial, pendidikan, kesehatan, kebijakan jaminan pemeliharaan kesehatan dan standar kualitas hidup (Suryawati, 2005; Budiantoro, Luhur & Muto, 2015). Pada konteks di Indonesia, kemiskinan lebih rentan menjadikan perempuan sebagai korban, baik dalam bentuk kekerasan fisik, psikologis maupun kesehatan (Subiyantoro, 2005). Oleh karena itu, Agusta (2014) menyebutkan pada diskursus kemiskinan pedesaan di Indonesia, mereka akan menyembunyikan tubuh miskin tetangganya melalui diskursus berbagi kelebihan barang. Imbas pembangunan yang sangat jarang dipersoalkan adalah terhadap perempuan adat yang berasal dari rumah tangga miskin. Makinuddin (2005) menyebutkan bahwa kemiskinan pada masyarakat adat tidak hanya terjadi akibat struktur, melainkan lebih kepada rendahnya perlindungan komunitas atas kepemilikan dan pengelolaan aset (Makinuddin, 2005). Pada sisi lain, hingga saat ini belum ada landasan Undang-Undang tentang perlindungan masyarakat adat. Sehingga, keberdayaan perempuan untuk dapat keluar dari belenggu kemiskinan sangat terbatas.

Pada penelitian ini, kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan yang konteksnya multidimensional. Aspek multidimensi yang akan dilihat pada masyarakat Dayak Benawan adalah kemiskinan yang kaitannya dengan dimensi pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, politik, lingkungan (alam dan geografis), dan kesehatan. Berdasarkan aspek-aspek ini maka metode etnografi akan digunakan sebagai metode penggalian data secara mendalam, hal ini karena etnografi sendiri memiliki tujuan utama yakni memahami cara hidup masyarakat lain dari sudut pandang pelaku (Spradley, 1980). Pelaku yang dimaksud dalam konteks penelitian ini adalah masyarakat Dayak Benawan.

Masyarakat suku asli Dayak Benawan di Desa Cowet masih terdapat rumah tangga yang miskin. Data pemerintahan Desa tahun 2017 mencatat terdapat 118 Kepala keluarga yang masih berada pada garis kemiskinan, dari jumlah total 362 Kepala Keluarga. Garis kemiskinan ini berdasarkan garis kemiskinan nasional yaitu berpenghasilan dibawah 2 US$ perhari. Pada situasi tertentu, seperti musim hujan, masyarakat Dayak Benawan sebagian besar tidak memiliki penghasilan.

Sementara itu, program pembangunan pemerintah pun dapat dirasakan oleh masyarakat hingga di tingkat kampung, seperti program PKK, program PKH, dan program pembukaan akses jalan. Hanya saja pada aspek pembangunan lain masih belum terlihat baik seperti pembangunan sanitasi, pembangunan toilet, akses listrik, akses komunikasi informasi, akses kesehatan desa, serta akses pendidikan di mana sekolah menengah hanya ada di kecamatan.

Keterbatasan akses ini menjadi penting untuk ditelusuri sebab-sebab didalamnya. Oleh karena itu, aspek yang ditekankan di dalam penelitian ini yaitu deskripsi situasi di masyarakat Benawan yang masih hidup dengan cara-cara tradisional. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disusun pertanyaan penelitian sebagai berikut: “Bagaimana situasi kemiskinan perempuan Dayak Benawan berdasarkan akses terhadap sumber penghidupan (livelihood) dasar rumah tangga, penguasaan tanah/lahan, pendidikan formal, dan informasi kesehatan?”

 

Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Dr. Dra. Bintarsih Sekarningrum, M.Si.  Ketua Promotor . Prof. Ida Widianingsih, M.A., Ph.D.  Anggota Tim Promotor Prof. Dr. Munandar Sulaeman, M.S, Dr. Muhammad Fedryansyah., S.Sos., M.Si serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Prof. Drs. Muhammad Fadhil Nurdin, MA., Ph.D, Dr. Drs. Wahju Gunawan, M.Si, M.Si. Dr. Drs. Budi Rajab, M.Si. Representasi Guru Besar Prof. Dr. Arry Bainus, M.A. Disertasi yang disusun berjudul KEMISKINAN PEREMPUAN DAYAK BENAWAN TERHADAP AKSES SUMBER PENGHIDUPAN”. yang dinyatakan lulus dengan predikatSangat Memuaskan”

 

Selamat atas diraihnya gelar Doktor  kepada Dr. Nikodemus Niko Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.