Laporan Kusman Rusmana, Humas FISIP Unpad
[pps.fisip.unpad.ac.id, 13/08/2024] Bandung – Selasa, 13 2024 (16.00), Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor via Zoom us (daring), pada kesempatan ini Ayu Anastasya Rachman, yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Hubungan Internasional resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.
Disertasi yang diujikan menurut Ayu Anastasya Rachman, Dalam menghadapi persaingan global, universitas perlu meningkatkan reputasi internasional melalui berbagai upaya strategis, salah satunya adalah diplomasi publik, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi. Pencapaian status sebagai World Class University (WCU) menjadi salah satu target utama yang diupayakan banyak perguruan tinggi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Diplomasi pendidikan tinggi melibatkan transfer pengetahuan, ekspor budaya, kemitraan, dan komunikasi dengan publik internasional. Upaya ini dilakukan untuk mendapatkan pengakuan global, menarik mahasiswa internasional, dan meningkatkan peringkat universitas dalam skala dunia, sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh lembaga pemeringkat seperti Times Higher Education (Marginson, 2007: 3; Montesinos et al., 2008: 8).
Fenomena ini juga dihadapi oleh universitas-universitas di berbagai Negara. Di Indonesia, sebagai negara dengan jumlah perguruan tinggi terbanyak ke-4 di dunia, upaya untuk mencapai WCU dihadapkan pada tantangan yang cukup kompleks. Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) melaporkan bahwa hanya sebagian kecil perguruan tinggi yang terakreditasi A, sementara sebagian besar lainnya masih berakreditasi B dan C, atau bahkan belum terakreditasi sama sekali (ACDP, 2019: 1). Kesenjangan kualitas ini menambah kesulitan dalam mencapai WCU. Pemerintah Indonesia, melalui kebijakan neoliberal dalam pendidikan tinggi, memberikan otonomi kepada perguruan tinggi untuk mengelola akademik, keuangan, dan sumber daya mereka secara mandiri (Rachman, 2017: 69). Namun, jika upaya menuju WCU tidak dilakukan secara kolektif dengan dukungan pemerintah, kesenjangan kualitas antar perguruan tinggi di Indonesia bisa semakin lebar (Rachman, 2017: 69).
Sejak Departemen Pendidikan Nasional (DIKNAS) membentuk Tim Gugus Tugas untuk menetapkan 10 perguruan tinggi yang dipersiapkan menjadi WCU, pemerintah semakin serius dalam meningkatkan reputasi perguruan tinggi Indonesia di kancah internasional. Hal ini dipertegas dengan UU Pendidikan Tinggi No. 12/2012 dan berbagai upaya pemerintah seperti pemberian status Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN BH) serta alokasi dana untuk mendukung peningkatan kualitas tridarma perguruan tinggi menuju WCU. Namun, meskipun upaya ini terus dilakukan, jumlah perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam peringkat 1500 besar dunia masih sangat sedikit (LLDIKTI, 2017: 2; THE, 2021).
Tiga universitas di Indonesia yang secara konsisten masuk dalam peringkat WCU versi THE adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). UI, misalnya, telah menyelenggarakan lebih dari 50 konferensi internasional setiap tahunnya, menjalin kemitraan internasional dengan ratusan kampus di berbagai negara, serta menawarkan berbagai program beasiswa dan pertukaran mahasiswa (UI International Office, 2021). UGM, di sisi lain, memiliki lebih dari 400 Memorandum of Understanding (MoU) dengan universitas asing dan menjadi co-founder dari Australia-Indonesia Centre yang berfokus pada pengembangan hubungan di bidang sains, teknologi, pendidikan, dan budaya (Office of International Affairs UGM, 2021). ITB juga aktif dalam menjalin kemitraan internasional, menawarkan program pertukaran pelajar, dan mempromosikan reputasinya melalui berbagai platform (Office of International Affairs ITB, 2021). Dalam rangka mencapai WCU, ketiga universitas tersebut melaksanakan diplomasi publik dan diplomasi pendidikan tinggi.
Penelitian ini memusatkan kajian mengenai bagaimana komponen utama diplomasi publik (agen, agenda, sarana target) UI, UGM, ITB dalam mencapai WCU; bagaimana lingkungan jaringan (networked) dari sarana diplomasi publik UI, UGM dan ITB dalam mencapai WCU; seberapa berpengaruh sarana diplomasi pendidikan tinggi melalui pertukaran akademik, kemitraan, dan transfer pengetahuan, terhadap pencapaian WCU Indonesia dilihat melalui pengajaran, riset, sitasi, reputasi internasional dan pendapatan industri.
Dengan menggunakan mixed-method pertanyaan penelitian kualitatif terjawab dan hipotesis penelitian kuantitatif dapat dibuktikan dengan menambahkan variabel academic transfer, partnership dan knowledge transfer. Berdasarkan hasil penelitian, maka simpulan dan saran penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. UI, UGM dan ITB agar memanfaatkan sarana diplomasi publik yakni listening (pengadaan tracer study dan pengguna alumni asing), advocacy (pembentukan lembaga press internasional universitas), Cultural Export, international broadcasting, partnership, academic exchange, dan khususnya transfer of knowledge, untuk meningkatkan reputasi universitas dalam mencapai WCU dengan memaksimalkan pengelolaan media elektronik, di antara nya sosial media (facebook, instagram, twitter, youtube) dan website universitas agar lebih strategis, misalnya dengan menyediakan konten kreatif, penerjemahan akurat ke bahasa internasional, hingga menyadur informasi di internet agar bisa menciptakan impresi yang positif misalnya melalui pengadaan laman Wikipedia, maupun melengkapi informasi universitas di dalam website World University Ranking
2. UI, UGM dan ITB dapat melakukan investasi maupun pengembangan strategis pada program- program transfer pengetahuan yang memiliki pengaruh paling besar terhadap reputasi internasional mereka sebagai WCU dimata mahasiswa asing, melalui pemberian beasiswa
3. Universitas-universitas di Indonesia harus fokus pada peningkatan program knowledge transfer dan international partnership sebagai sarana untuk meningkatkan reputasi dan pencapaian mereka dalam WCU. Penguatan program seperti joint-degree, dual-degree dan riset bersama dapat meningkatkan visibilitas global universitas di Indonesia.
4. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat dan memperluas sarana diplomasi publiknya melalui kolaborasi yang lebih erat dengan institusi pendidikan tinggi, serta memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk menjangkau audiens global.
Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang, Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Dr. Wawan Budi Darmawan, SIP.,M.Si , Ketua Promotor . Dr. R. Dudy Heryadi, M.Si Anggota Tim Promotor Prof. Yanyan Mochamad Yani, Ph.D, Dra. Junita Budi Rachman, M.Si., Ph.D serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Arry Bainus, M.A, Dr. Deasy Silya Sari, S.IP., M.Si. Dr. Shanti Darmastuti, M.Si Representasi Guru Prof. Dr. Nandang Alamsah, M.Hum, Disertasi yang disusun berjudul “Diplomasi Publik dan Diplomasi Pendidikan Tinggi Indonesia: Studi tentang Pencapaian World Class University dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung (2019-2021)”. yang dinyatakan lulus dengan predikat “ Pujian” Selamat atas diraihnya gelar Doktor kepada Dr. Ayu Anastasya Rachman .Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.