Laporan  Kusman Rusmana, Humas FISIP Unpad

[pps.fisip.unpad.ac.id, 14/08/2024] Bandung – Rabu , 14 Agustus 2024 (13.30), Program Doktor Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran kembali melaksanakan sidang Promosi Doktor, pada kesempatan ini Dadang Amiruddin, yang merupakan mahasiswa Doktoral Program Studi Ilmu Administrasi Peminatan Administrasi Bisnis resmi menyandang gelar Doktor di Universitas Padjadjaran, setelah menyelesaikan sidang promosi.

Promovendus dilahirkan di Cianjur pada tanggal 16 Agustus 1970 dari pasangan Bapak Kapten (Purn.) M. Amin Rahman (alm.) dan Ibu R. Djualesih (almh.), sebagai anak pertama dari 4 (empat) bersaudara. Merupakan seorang suami dari Ibu Kapten Cpm (Kowad) Yulistianti Geminia Dewi. Mempunyai dua anak yaitu Akbar Maulana, S.M. dan Syifa Puspita S.I.Kom.

Riwayat Pendidikan : Pendidikan SD diselesaikan pada tahun 1983 di SD Negeri Sumber Agung Kota Serang, SMP diselesaikan pada tahun 1986 di SMP Negeri 5 Kota Serang, SMA diselesaikan pada tahun 1989 di SMA Negeri 1 Serang, Jenjang pendidikan Sarjana Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Universitas Gunadarma Jakarta lulus pada tahun 1994 di Universitas Gunadarma Jakarta, Program Magister Manajemen Sistem Informasi diselesaikan tahun 2004 di Universitas Budi Luhur Jakarta, dan pada semester genap tahun akademik 2018/2019 masuk kuliah Program Doktor Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Bandung.

Riwayat Jabatan/Pekerjaan, pada Desember 1994 menjadi pegawai PT. Chandra Asri Petrochemical di Kota Cilegon: 1). Information Technology Programmer; pada Desember 1994 – Maret 1996; 2) Information Technology System Analyst; pada Maret 1996 – Agustus 1997;

2) Information Technology Senior System Analyst; pada Agustus 1997 – April 2001; Information Technology Section Manager; pada April 2001 – Oktober 2009; Enterprise Resource Planning Site Office Manager; pada Oktober 2009 – Februari 2023; Supply Chain and Operation Digitalization Manager; pada Februari 2023 sampai sekarang.

Promovendus merupakan Dosen Tetap pada Fakultas Ilmu Komputer Universitas Banten Jaya di Kota Serang sejak tahun 1999 sampai sekarang, dengan jabatan fungsional Lektor dan telah mendapatkan sertifikasi dosen pada tahun 2014. Menjabat Wakil Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Banten Jaya pada November 2011 – Oktober 2013. Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Banten Jaya pada November 2013 – Oktober 2017.

Disertasi yang diujikan menurut Dadang Amiruddin, Revolusi Industri 4.0 mendorong perusahaan di seluruh dunia untuk mencapai produktivitas yang lebih baik dengan mengimplementasikan teknologi informasi dalam bisnisnya. Salah satu industri yang menghadapi tantangan atas perkembangan Industri 4.0 adalah industri pada sektor manufaktur. Industri manufaktur di Indonesia memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan I -2023, yakni sebesar 16,77 persen, mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya

(triwulan IV-2022) sebesar 16,39 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur memiliki peran penting bagi pertumbuhan ekonomi indonesia.

Pemerintah Indonesia berkomitmen mempercepat implementasi Revolusi Industri 4.0 pada industri manufaktur melalui Kementerian Perindustrian. Komitmen pemerintah Republik Indonesia ini ditandai dengan diluncurkan “Making Indonesia 4.0” oleh Presiden Republik Indonesia pada awal April 2018. Berdasarkan road map “Making Indonesia 4.0”. Kementerian Perindustrian telah menetapkan lima sektor manufaktur yang akan diprioritaskan pengembangannya, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, serta kimia.

Pada industri kimia, industri kimia dasar menjadi salah satu dari sepuluh industri prioritas Pemerintah Indonesia yang tercantum dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015 – 2035. Salah satu industri kimia adalah industri Petrokimia yang merupakan industri hulu yang menjadi salah satu industri strategis baik ditinjau dari posisinya dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) industri manufaktur maupun dalam konteks keterkaitan dengan industri hilir lainnya.

Industri Petrokimia Hulu yang dikembangkan di Indonesia sesuai RIPIN (Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional) 2015-2035 adalah Etilena, Propilena, Butadiene, Benzena, Toluena, p-Xylena, o-Xylena, Metanol, Ammonia, dan Asam Formiat. Salah satu produsen produk-produk tersebut adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP). CAP merupakan industri petrokimia terintegrasi dan terbesar yang mengoperasikan satu-satunya Naphtha Cracker di Indonesia untuk memproduksi Ethylene, Polypropylene, Polyethylene, Styrene Monomer, Butadiene, PyGas, Mixed-C4, Polyethylene, dan Polypropylene. Berdasarkan penjelasan peran strategis kimia dasar di atas, CAP juga termasuk dalam salah satu obyek vital nasional sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Perindustrian Republik Indonesia, nomor 466/M-IND/Kep/8/2014.

Sebagai sebuah industri petrokimia terintegrasi, pemanfaatan teknologi informasi pada CAP menjadi sebuah keharusan. Tahat et al., (2017) menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dapat meningkatkan kinerja organisasi dengan lebih baik. Penelitian Sadikoglu & Zehir, (2010) menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi merupakan komponen vital bagi kinerja perusahaan, pengelolaan penggunaan teknologi informasi akan mampu meningkatkan kinerja perusahaan.

Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) merupakan salah satu produk teknologi informasi. Sistem ERP telah menjadi populer di perusahaan-perusahaan seluruh dunia untuk menghadapi lingkungan yang berubah dengan cepat dan mengatasi keterbatasan sistem warisan

(Kallunki et al., 2011). Sistem ERP meningkatkan daya saing dan kinerja perusahaan (Kulikov et al., 2020; Mahraz et al., 2020). Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam lingkungan bisnis menjadi pendorong efisiensi dan kinerja yang lebih baik, dan mempertahankan daya saing serta meningkatkan profitabilitas (Stanimirovic, 2015). Sistem ERP menjadi pilihan utama bagi perusahaan untuk menjalankan operasional perusahaan lebih efektif dan efisien. Shao et al., (2015) menemukan bahwa perusahaan telah beralih ke sistem ERP untuk membuat proses operasional, taktis, dan strategis perusahaan lebih efisien dan efektif.

Dalam lingkungan bisnis saat ini, penggunaan sistem informasi menjadi satu keharusan agar perusahaan memiliki daya saing dan keberlanjutan. Sistem ERP telah menjadi populer di perusahaan-perusahaan seluruh dunia untuk menghadapi lingkungan yang berubah dengan cepat dan mengatasi keterbatasan sistem warisan (Kallunki et al., 2011). Shao et al., (2015) menemukan bahwa perusahaan telah beralih ke sistem ERP untuk membuat proses operasional, taktis, dan strategis perusahaan lebih efisien dan efektif.

Implementasi sistem ERP pada perusahaan mengakibatkan terjadinya perubahan- perubahan, seperti perubahan sistem lama ke sistem baru, perubahan peran, perubahan cara kerja, dan perubahan proses bisnis. Perubahan tersebut menimbulkan resistensi dari pegawai, seperti keengganan pegawai menggunakan sistem baru karena mereka harus belajar dan memahami sistem yang baru, beradaptasi atas adanya perubahan pada sistem yang baru, kurangnya dukungan dan komitmen dari manajemen puncak, konflik antar unit kerja dan lain- lain. Perubahan yang terjadi dalam suatu organisasi sebagai akibat dari penerapan ERP, baik yang direncanakan maupun yang dipaksakan, cenderung mempengaruhi aktivitas karyawan selama proses perubahan (Cui et al., 2019). Keadaan atau suasana tersebut menjadikan implementasi sistem ERP menjadi tidak mudah. Oleh karenanya suasana lingkungan internal perusahaan memiliki peranan yang penting bagi setiap implementasi perubahan yang dilakukan oleh perusahaan dalam menjaga keberlangsungan hidup organisasi.

Elkhani et al. (2014) dan Mitra & Mishra, (2016) menyatakan faktor pendekatan manajemen dan kepemimpinan diidentifikasi sebagai faktor kegagalan dalam implementasi Sistem ERP. Zare Ravasan & Mansouri, (2016) menyatakan konflik antara organisasi dan konsultan atau vendor, ketidaksesuaian antara budaya organisasi dan sistem ERP, ketidak sesuaian antara struktur organisasi dan sistem ERP, tekanan lingkungan, konflik internal antara departemen, dan manajemen perubahan yang tidak memadai merupakan beberapa faktor kegagalan dalam implementasi sistem ERP. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Upadhyay et al., (2011) menyatakan iklim organisasi yang tidak kondusif dapat mengakibatkan kegagalan implementasi sistem ERP.

Tingkat kegagalan yang tinggi dan kesulitan dalam menerapkan sistem ERP telah banyak dikutip dalam literatur-literatur, diperkirakan 178 persen melebihi anggaran, memakan waktu 2,5 kali lebih lama dari yang diharapkan dan hanya memberikan 30 persen dari keuntungan yang dijanjikan. Selain itu, 75 persen proyek ERP dianggap gagal dan tidak dapat diterima (Huang et al., 2004).

Kegagalan dalam implementasi sistem ERP dialami oleh beberapa perusahaan di dunia. Dalam laporan yang disampaikan oleh beberapa konsultan teknologi informasi, khususnya sistem ERP, kegagalan tersebut mengakibatkan kerugian secara finansial hingga jutaan dolar pada perusahaan. Perusahaan Nike Inc. mengalami kerugina sekitar 100 juta dolar, Hewlett Packard merugi 160 juta dolar, Vodafone mengalami kerugian seper 4,6 juta poundsterling.

Implementasi sistem ERP pada suatu perusahaan dapat mengalami kegagalan ketika iklim organisasi tidak kondusif, dimana karyawan sebagai pengguna sistem merasa bahwa mereka akan dihadapkan pada sistem baru yang sulit dan akan menambah pekerjaan. Implementasi tampaknya gagal karena iklim organisasi yang tidak kondusif di mana pengguna dalam organisasi merasa bahwa sistem yang canggih dan rumit sedang didorong pada mereka, (Upadhyay et al., 2011).

Hasil kajian Dantes & Hasibuan, (2010) berkesimpulan bahwa beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan implementasi sistem ERP di Indonesia, yaitu: (1) Alokasi anggaran dan jadwal proyek tidak dirancang secara akurat; (2) Adanya perubahan permintaan ketika proyek implementasi sedang berlangsung; (3) Tidak adanya dukungan optimal baik dari pengguna dan pengguna utama; (4) Komunikasi yang baik antara pemimpin proyek internal dan konsultan ERP tidak terjalin; (5) Adanya perubahan staf konsultan; (6) Keterampilan konsultan tidak memenuhi harapan pemimpin proyek internal; (7) Adanya ketidakpercayaan terhadap sistem baru karena pengguna terus membandingkan sistem ERP dengan sistem warisan dalam hal kinerja; (8) Perangkat keras yang tidak memadai untuk mengikuti kompleksitas perangkat lunak berkontribusi pada rendahnya kinerja sistem baru; (9) Pengguna menunjukkan kurangnya disiplin dalam melakukan entri data; dan (10) Adanya inkonsistensi data karena perubahan perangkat lunak ERP.

Dengan demikian, cukup mengkhawatirkan akibat kegagalan implementasi sistem ERP, namun demikian, penelitian-penelitian terus dilakukan untuk mencari cara meningkatkan peluang keberhasilan implementasi sistem ERP.

Keberhasilan implementasi sistem ERP pada perusahaan di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Simamora et al., (2015) menyatakan keberhasilan implementasi sistem ERP pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor Manufaktur di Indonesia dipengaruhi oleh

faktor penentuan urgensi elemen kritis, faktor kontekstual, dan pengelolaan proyek. Budaya Organisasi dan Kepemimpinan Transformasional Key User mempengaruhi keberhasilan implementasi sistem ERP pada perusahaan (Wijayanto, 2013).

Keberhasilan implementasi sistem ERP dapat dianalisis dengan menggunakan model keberhasilan sistem informasi yang telah banyak dikembangkan oleh peneliti. Dari beberapa model keberhasilan implementasi sistem informasi, model DeLone dan McLean yang paling banyak mendapatkan perhatian, yaitu Mudzana & Maharaj, (2015), Zouine & Fenies, (2015), De Freitas et al., (2015), Wijayanto, (2013). Model DeLone dan McLean (2003), menyatakan bahwa keberhasilan implementasi sistem informasi ditentukan oleh kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan, intensitas penggunaan, kepuasan pengguna, dan keuntungan bersih.

Keberhasilan implementasi sistem ERP menjadi tantangan bagi perusahaan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dukungan dan komitmen manajemen puncak dalam menciptakan iklim organisasi yang kondusif menjadi sangat penting bagi keberhasilan implementasi sistem ERP pada perusahaan. Faktor iklim organisasi telah muncul sebagai penghambat utama dalam implementasi sistem perusahaan (Upadhyay et al., 2016).

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan dan hasil penelusuran dengan aplikasi VosViewers, maka penelitian ini menempatkan iklim organisasi sebagai faktor yang diduga mempengaruhi kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan, dan kepuasan pengguna sebagai faktor yang digunakan untuk mengukur keberhasilan implementasi sistem ERP. Iklim organisasi sebagai variabel yang diduga mempengaruhi pembentukan model DeLone dan McLean dalam menentukan keberhasilan implementasi sistem ERP menjadi menarik untuk dilakukan penelitian pada perusahaan sektor Manufaktur di Indonesia, khususnys pada perusahaan PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk.

Sidang Promosi Doktor dipimpin oleh Ketua Sidang Prof. Dr. R. Widya Setiabudi Sumadinata, Sekretaris Sidang Dr. H. R. Anang Muftiadi, S.E., M.Si, Ketua Promotor . Prof. Dr. Drs. H. Sam’un Jaja Raharja, M.Si Anggota Tim Promotor  Dr. Margo Purnomo, M.M,.serta tim Oponen Ahli/Penguji yang terdiri dari Dr. H. R. Anang Muftiadi, S.E., M.Si,. Rivani, S.IP., MM,.DBA, Dr. Herwan A.Muhyi, S.IP.,M.Si.Representasi Guru Besar Prof. Dr. H. Nandang Alamsah D., S.H., S.AP., M. Hum Disertasi yang disusun berjudul “PENGARUH IKLIM ORGANISASI TERHADAP KEBERHASILAN IMPLEMENTASI SISTEM ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) Studi pada PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk” yang dinyatakan lulus dengan predikat “ Sangat Memuaskan” Selamat atas diraihnya gelar Doktor  kepada Dr. Dadang Amiruddin. Semoga gelar dan ilmu yang didapatkan dapat berguna bagi dunia pendidikan, dan Intansi tempat bekerja.